BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Editorial atau tajuk rencana
merupakan bagian tradisional dari surat kabar. Dalam radio dan televise,
editorial/tajuk rencana tidak begitu menonjol dan mendarah daging. Bahkan dalam
surat kabar, tajuk rencana baru muncul seabad lalu yang dimulai di Amerika.
Pada saat itulah penulisan tajuk rencana ditemukan menjadi terkenal ketika
konsep penulisan berita secara objektif mulai menjadi keharusan. Dalam
surat-surat kabar tajuk rencana biasanya ditempatkan di halaman opini dan
biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi surat kabar bersangkutan. Ia menempati
sebuah kotak dua kolom yang memanjang ke bawah dan diletakkan disebelah pojok
kiri atas halaman. Karena kekuatan atau kelemahan opini-opini dan semangat yang
dinyatakan dalam tajuk rencana tentang suatu isu merupakan pernyataan seorang
pribadi, tajuk rencana mencerminkan kepribadian – kepribadian mereka yang
menulisnya (apakah ia pemimpin redaksi atau seorang redaktur yang ditugasi
menulis tajuk rencana), meskipun ia dimaksudkan sebagai cerminan pendirian
suatu Koran.
1.2.Rumusan Masalah
- a. Apa pengertian editorial/tajuk rencana?
- b. Bagaimana ciri-ciri dan tujuan dari editorial?
- c. Bagaimana langkah-langkah menulis editorial?
1.3.Tujuan
- Mengetahui definsi dari editorial
- Memahami ciri-ciri dan tujuan dari editorial
- Memahami langkah-langkah dari penulisan editorial
BAB II
A.KAJIAN TEORI
Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw
Jigsaw adalah salah satu dari metode-metode kooperatif yang paling fleksibel (Slavin, 2005:246). Model pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu variasi model Collaborative Learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Sudrajat, 2008:1).
Model pembelajaran Jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain (Zaini, 2008:56).
Jigsaw adalah salah satu dari metode-metode kooperatif yang paling fleksibel (Slavin, 2005:246). Model pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu variasi model Collaborative Learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Sudrajat, 2008:1).
Model pembelajaran Jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain (Zaini, 2008:56).
Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw
Pada pembelajaran
model Jigsaw para siswa bekerja dalam tim yang heterogen. Para siswa tersebut
diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, dan diberikan lembar ahli
yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian
masing-masing anggota tim saat mereka membaca. Setelah semua peserta didik
selesai membaca, siswa dari tim berbeda yang mempunyai fokus topik sama bertemu
dalam kelompok ahli untuk menentukan topik mereka. Para ahli tersebut kemudian
kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya
mengenai topik mereka.
Selanjutnya para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik dan skor kuis akan menjadi skor tim. Skor-skor yang dikontribusikan para siswa kepada timnya didasarkan pada sistem skor perkembangan individual dan para siswa yang timnya meraih skor tertinggi akan menerima sertifikat atau bentuk-bentuk rekognisi tim lainnya. Dengan demikian para siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras dalam kelompok ahli mereka supaya dapat membantu timnya melakukan tugas dengan baik.
Tahapan-tahapan penerapan pembelajaran model Jigsaw adalah sebagai berikut:
Selanjutnya para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik dan skor kuis akan menjadi skor tim. Skor-skor yang dikontribusikan para siswa kepada timnya didasarkan pada sistem skor perkembangan individual dan para siswa yang timnya meraih skor tertinggi akan menerima sertifikat atau bentuk-bentuk rekognisi tim lainnya. Dengan demikian para siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras dalam kelompok ahli mereka supaya dapat membantu timnya melakukan tugas dengan baik.
Tahapan-tahapan penerapan pembelajaran model Jigsaw adalah sebagai berikut:
- Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Sebuah bagian dapat disingkat seperti sebuah kalimat atau beberapa halaman.
- Hitung jumlah bagian belajar dan jumlah peserta didik. Dengan satu cara yang pantas, bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang berbeda.
- Setelah selesai, bentuk kelompok Jigsaw Learning. Setiap kelompok ada seorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas.Kemudian bentuk kelompok peserta didik Jigsaw Learning dengan jumlah
B.PEMBAHASAN
STANDART KOMPETENSI 11
KOMPETENSI DASAR 11.2
1.1.Pengertian Editorial
Editorial atau Tajuk rencana
adalah sikap, pandangan atau pendapat penerbit terhadap masalah-masalah yang
sedang hangat dibicarakan masyarakat. opini berisi pendapat dan sikap resmi
suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal,
atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Opini yang ditulis pihak
redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap
resmi media yang bersangkutan. Menulis tajuk memerlukan situasi dan kondisi
tertentu yang sangat dipengaruhi oleh peristiwa atau kejadia dalam pemberitaan
sehari-hari. Tajuk tidak bisa mengupas suatu kejadian yang sudah lama
berlangsung.
Menurut Lyle Spencer dalam
bukunya “Editorial Writing” yang dikutip oleh Dja’far H. Assegaff dalam bukunya
“Jurnalistik Masa Kini”, tajuk rencana merupakan pernyataan mengenai fakta dan
opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan
untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita
yang menonjol sebegitu rupa sehingga bagi kebanyakan pembaca surat kabar akan
menyimak pentingnya arti berita yang ditajukkan tadi (Dja’far H. Assegaff :
1991).
1.2.Tujuan, ciri-ciri dan jenis Editorial atau Tajuk
Rencana
Tajuk rencana merupakan
suara lembaga maka tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti
halnya menulis berita atau features. Idealnya tajuk rencana adalah pekerjaan,
dan hasil dari pemikiran kolektif dari segenap awak media. Jadi proses sebelum
penulisan tajuk rencana, terlebih dahulu diadakan rapat redaksi yang dihadiri
oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang
berkompeten, untuk menentukan sikap bersama terhadap suatu permasalahan krusial
yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintah. Maka
setelah tercapai pokok- pokok pikiran, dituangkanlah dalam sikap yang kemudian
dirangkum oleh awak redaksi yang telah ditunjuk dalam rapat. Dalam Koran harian
bisanya tajuk rencana ditulis secara bergantian, namun semangat isinya tetap
mecerminkan suara bersama setiap jajaran redakturnya. Dalam proses ini reporter
amat jarang dilibatkan, karena dinilai dari segi pengalaman serta tanggung
jawabnya yang terbatas.
Dalam
penulisan editorial mula-mula anda harus menentukan tujuannya. Sehubungan
dengan itu empat tujuan editorial telah dikemukanan oleh William Pinkerton dari
Harvard University. Keempat tujuan tersebut sebagai berikut:
- a. Editorial menjelaskan kejadian-kejadian penting kepada para pembaca. Editorial berfungsi sebagai guru, menerangkan bagaimana suatu kejadian tertentu berlangsung, faktor-faktor apa yang diperhitungkan untuk menghasilkan perubahan dalam kebijakan pemerintah, dengan cara bagaimana kebijakan baru akan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi suatu masyarakat.
- b. Untuk memperlihatkan kelanjutan suatu peristiwa penting, editorial dapat menggambarkan kejadian tersebut dengan latar belakang sejarah, yaitu menghubungkannya dengan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya.
- c. Suatu Editorial kadang kadang menyajikan analisis yang melewati batas berbagai peristiwa sekarang dengan tujuan meramalkan sesuatu yang akan terjadi pada masa datang.
- d. Menurut tradisi lama, para penulis editorial bertugas mempertahankan kata hati masyarakat. Mereka diharapkan mempertahankan isu-isu moral dan mempertahankan posisi mereka. Merek berkata kepada pembacanya tentang sesuatu yang benar dan salah.
Dilihat dari
perspektif yang sedikit berbeda, tujuan editorial dibagi dalam tiga kategori:
- a. Mengajarkan atau menjelaskan kepada pembaca bahwa mereka dapat berperan dalam banyak editorial. Prinsip menjelaskan yang baik adalah kejelasan, kesempurnaan dan ketepatan. Dalam penjelasan, penekanan bukan pada pengalaman atau penilaian seseorang, melainkan pada penyajian fakta dan gagasan yang objektif dan tanpa prasangka. Umumnya editorial tidak selalu menjelaskan, tetapi kadang-kadang memusatkan pada informasi, misalnya sebuah editorial brfungsi melaporkan informasi yang kurang tepat untuk dimuat pada halaman berita.
- b. Umumnya editorial menawarkan solusi spesifik untuk suatu masalah yang dirasakan. Mereka mengharapkan tindakan segera daripada pemahaman situasi. Sebuah editorial dapat memberikan kepemimpinan dalam membawa perubahan dalam kebijakan.
- c. Selain menjelaskan dan meyakinkan (persuasif), editorial bisa juga menilai peristiwa. Berbeda dengan penjelasan yang menyajikan fakta-fakta objektif dan bisa dibuktikan, penilaian bersifat subjektif, sebagai ungkapan suatu sudut pandang yang tidak dapat diverifikasi secara bebas, penilaian tetap merupakan persoalan penilaian.
Ciri – ciri
umum tajuk rencana:
- a. Berisi opini redaksi tentang peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan
- b. Berisi ulasan tentang suatu masalah yang dimuat
- c. Biasanya berskala masional, berita internasional dapat menjadi tajuk rencana, apabila berita tersebut memberi dampak kepada nasional
- d. Tertuang pikiran subyektif redaksi
Jenis-jenis
Tajuk Rencana:
- a. Tajuk rencana yang memberikan informasi semata
- b. Tajuk rencana yang bersifat menjelaskan
- c. Tajuk rencana yang bersifat memberikan argumentasi
- d. Tajuk rencana yang menjuruskan timbulnya aksi
- e. Tajuk rencana yang bersifat jihad
- f. Tajuk rencana yang bersifat membujuk
·
g. Tajuk
rencana yang bersifat memuji
·
h. Tajuk
rencana yang bersifat menghibur
1.3.Langkah – langkah menulis Editorial
atau Tajuk Rencana
- a. Memilih (selecting)
Pada langkah
pertama, pilihlah isu-isu yang hendak diangkat. Perlu pertimbangan tersendiri
untuk menentukan isu apa yang hendak diangkat. Perbedaan pertimbangan inilah
yang membedakan pengangkatan isu setiap media berbeda-beda. Misalnya saja, pada
kamis, 7 september 2007, media indonesia mengangkat masalah buruknya kompetensi
transportasi di indonesia. Sementara seputar indonesia mengangkat masalah
siginifikansi apec.
- b. Mengumpulkan (collecting)
Tahap berikutnya,
kumpulkan pendukung yang akan memperkuat opini yang hendak disampaikan.
Pendukung berupa fakta-fakta seputar topik yang diangkat ini akan memberi nilai
objektivitas pada tulisan daripada sekadar opini belaka. Untuk memberikan nilai
yang lebih kuat, kumpulkanlah pendapat-pendapat yang berotoritas agar opini
yang hendak dikemukakan lebih berbobot.
- c. Mengaitkan (connecting)
Langkah
ketiga ialah menghubungkan atau mengaitkan. Sebelum menyusun draf editorial,
rembukkan dulu dengan anggota redaksi (ingatlah bahwa editorial itu mewakili
sikap media terkait). Isi editorial yang disampaikan harus jelas dan
menyampaikan detail-detail yang akurat, dilengkapi dengan contoh-contoh
pendukung. Berikan argumen yang kuat pada awal dan akhir editorial. Dalam hal
ini, argumen yang dipertentangkan, berikut kelemahan-kelemahannya dapat
ditunjukkan. Jangan lupa, tawarkan solusi pada akhir editorial
- d. Memperbaiki (correcting).
Akhirnya,
lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hasil tulisan tersebut. Editorial itu
harus jelas dan bertenaga. Tapi jangan sampai menyerang pihak lain. Upayakan
pula untuk tidak terlalu mengajari. Susunan paragraf sebaiknya ringkas dan
lugas. Sekali lagi, berbagai contoh dan ilustrasi akan bermanfaat. Apalagi
kutipan-kutipan yang berbobot, akan menguatkan opini kita. Yang lebih penting
lagi, kemukakan semua dengan jujur dan akurat.
Ada beberapa
struktur yang bisa digunakan untuk menyusun sebuah editorial. Berikut ini salah
satunya.
- “Lead” dengan penjelasan yang objektif terhadap isu/kontroversi tertentu. Jangan lupa menyertakan prinsip 5W 1H.
- Tariklah beragam fakta dan kutipan dari bahan-bahan yang relevan.
- Untuk memperkuat posisi, lakukan riset tambahan seperlunya.
- Kemukakan opini oposisi terlebih dahulu.
Sebagai
penulis editorial, anda tidak seharusnya menyetujui opini yang mengemuka,
identifikasikan pihak-pihak yang bertentangan dengan anda.
- Gunakan beragam fakta dan kutipan untuk menyatakan opinin mereka secara objektif.
- Berikan posisi oposisi yang kuat. Anda tidak akan mendapat apa pun kalau menyanggah posisi yang lemah.
- Sanggah keyakinan pihak oposisi secara langsung. Sebelum benar-benar menyanggah, artikel dapat diawali dengan sebuah transisi.
- Tariklah fakta-fakta dan kutipan-kutipan dari orang-orang lain yang mendukung posisi Anda.
- Akui poin yang valid dari pihak oposisi yang akan membuat Anda tampak rasional, yang mempertimbangkan seluruh pilihan.
- Berikan alasan/analogi asli lainnya. Untuk mempertahankan posisi anda, berikan alasan yang disajikan dalam urutan semakin kuat.
- Gunakan alusi budaya atau literer yang akan memberikan kredibilitas dan rasa inteligensi.
- Simpulkan dengan tegas, berikan solusi dari masalah atau tantang pembaca untuk berbagian memecahkan masalah.
- Sebuah kutipan akan efektif, khususnya jika berasal dari sumber terpercaya.
- Pertanyaan retoris dapat menjadi simpulan yang efektif juga. Sebab sering kali pertanyaan seperti ini menyadarkan kalangan tertentu.
1.4.Contoh Editorial/Tajuk Rencana
Contoh Tajuk
Rencana Harian Kompas : Sertifikasi Guru, Haruskah?
Sertifikasi
Guru, Haruskah?
Selasa, 6
Maret 2012 | 07:46 WIB
“Bagi mereka
yang sudah pegang sertifikasi guru segera berikanlah hak mereka. Hentikan guru
sebagai sapi perah oleh bermacam-macam instansi atau kepentingan politik
praktis.”
Sertifikasi
Guru, Haruskah?
Sebagai alat
mewujudkan mutu pendidikan, pertanyaan di atas perlu dijawab: harus! Itulah
salah satu upaya mengurai kesemrawutan persoalan guru.
Seabrek
acara seremonial dan basa-basi menghormati guru. Barangkali terkecuali dosen,
lirik Oemar Bakri, jadi guru jujur berbakti memang makan hati, menyuarakan rintihan pemegang
profesi yang jumlahnya lebih dari 2,9 juta, lebih dari separuh PNS. Padahal,
tak ada profesi apa pun yang terbebas dari peranan dan andil guru.
Perbaikan
terkesan basa-basi. Di antaranya, tidak diterjemahkan dalam penghargaan
kesejahteraan. Timbal balik itu tidak terjadi, bahkan guru sendiri harus
memperjuangkannya.
Tunjangan
profesi baru muncul beberapa tahun lalu, disusul tunjangan sertifikasi.
UU Guru
Nomor 14 Tahun 2005 menegaskan guru sebagai profesi pendidik. Guru dan dosen
diangkat sebagai profesi, artinya para pemegangnya berhak mendapatkan hak-hak
sekaligus kewajiban profesional. Terus merosotnya mutu praksis pendidikan dan
hasil pendidikan salah satunya disebabkan faktor profesionalitas guru.
Padahal,
menurut data Kemdikbud, guru yang layak mengajar di SD hanya sekitar 27 persen,
di SMP sekitar 58 persen, di SMA sekitar 65 persen, dan di SMK sekitar 56
persen. Selain kualitas guru, jumlah guru—kecuali guru SD yang konon cukup
tetapi tidak merata—menjadi faktor masalah kronis profesi keguruan di
Indonesia.
Menyelenggarakan
program sertifikasi guru kita dukung sebagai salah satu sarana peningkatan mutu
guru. Menyerahkan status kepegawaian guru kepada daerah sejalan dengan UU
Otonomi Daerah, dilihat sebagai upaya memenuhi kebutuhan guru di daerah.
Di lapangan,
program itu tidak sejalan dengan rencana di atas kertas. Masuknya kepentingan
politik praktis penguasa politik setempat berdampak terhadap netralitas
pemegang profesi pendidik. Karena itu, ada rencana mengembalikan status PNS
guru ke pusat.
Sebaliknya,
kemudahan program sertifikasi lewat portofolio berekses manipulasi data.
Diintrodusirlah ujian kompetensi awal yang berekses pada pengutipan uang oleh
aparat, seperti tersingkap di Sumatera Utara.
Dengan
ekses-ekses itu, apakah program sertifikasi—tahun ini dikuota 250.000 dan
hingga 2014 ditarget 2,7 juta—dihentikan? Lantas, semua guru dengan sembilan
status mereka selama ini semua diangkat sebagai PNS? Padahal, menurut Mendikbud
Mohammad Nuh, hanya 30 persen dari 650.000 tenaga honorer bisa diangkat sebagai
PNS. Semua hendaknya menjadi bahan pertimbangan.
Mengambil
yang sedikit kejelekannya, program sertifikasi guru merupakan keniscayaan. Ekses
yang terjadi seminimal mungkin dicegah, selain tentu perlu diikuti tindak
lanjut dari apa yang dijanjikan bagi mereka.
Konkretnya?
Di antaranya, bagi mereka yang sudah pegang sertifikasi guru segera berikanlah
hak mereka. Hentikan guru sebagai sapi perah oleh bermacam-macam instansi atau
kepentingan politik praktis.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Editorial
atau Tajuk rencana adalah sikap, pandangan atau pendapat penerbit terhadap
masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. opini berisi
pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap
persoalan aktual, fenomenal, atau kontroversial yang berkembang di masyarakat.
Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus
mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan. Menulis tajuk
memerlukan situasi dan kondisi tertentu yang sangat dipengaruhi oleh peristiwa
atau kejadia dalam pemberitaan sehari-hari. Tajuk tidak bisa mengupas suatu
kejadian yang sudah lama berlangsung.
Tajuk
rencana merupakan suara lembaga maka tidak ditulis dengan mencantumkan nama
penulisnya, seperti halnya menulis berita atau features. Idealnya tajuk rencana
adalah pekerjaan, dan hasil dari pemikiran kolektif dari segenap awak media.
Jadi proses sebelum penulisan tajuk rencana, terlebih dahulu diadakan rapat
redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap
jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan sikap bersama terhadap
suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam
kebijakan pemerintah.
DAFTAR
PUSTAKA
Http://sealee.wordpress.com/contoh-editorial/
No comments:
Post a Comment