MENULIS ABSTRAK
Abstrak:
Menulis
merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.Menulis salah satu
keterampilan berbahasayang harus dikuasai
oleh siswa.Di sekolah dasar keterampilan menulis merupakan salah satu
keterampilan yang ditekankan pembinaannya, di samping membaca dan
berhitung.Oleh karena itu pembelajaran menulis perlu mendapatperhatian dari
para guru.Dari hasil pengamatan diketahui penyebabnya yaitu belum digunakannya
media benda konkretsebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis
siswa deskripsi dan belum pahamnya siswa tentangketerampilan menulis
deskripsi.Untuk mengatasinya, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkanketerampilan menulis deskripsi
siswa yaitu dengan menggunakan media benda konkret dalam pembelajaran.
Tujuandari penelitian ini antara lain :1) mendeskripsikan pelaksanaan
pembelajaran dengan penggunaan media benda konkretuntuk meningkatkan
keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IV SDN Kedungmentawar Ngimbang
Lamongan, 2)mendeskripsikan hasil belajar menulis deskripsi siswa kelas
IV SDN Kedungmentawar Ngimbang Lamongan dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan penggunaan media benda konkret, 3) mendeskripsikan kendala
yang ditemui dalampelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media benda
konkre tuntuk meningkatkan keterampilan menulisdeskripsi siswa kelas IV SDN Kedungmentawar Ngimbang Lamongan dan cara
mengatasinya. Penelitian inimenggunakan rancangan penelitian tindakan
kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam dua siklus.Setiap siklus terdiri dariempat
tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.Teknik
pengumpulan data yang digunakan yaitudengan pengamatan, tes, dan catatan
lapangan.Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil
penelitian menunjukkan adanya peningkatan pelaksanaan pembelajaran padasiklus
I mencapai 78,66% dan nilai ketercapaian adalah 65,9, sedangkan pada siklus II,
mencapai100% dan nilaiketercapaiannya 89,01. Hasil belajar siswa pada siklus I
adalah sebanyak 43,3% siswa belum tuntas belajar Sedangkanpada siklus II, 80%
siswa tuntas belajar. Simpulan penelitian adalah penggunaan media benda konkret
dalampelaksanaan pembelajaran di kelas IV SDN Kedungmentawar dapat meningkatkan
keterampilan menulis deskripsisiswa.
Kata Kunci:
Media Benda
Konkret, Keterampilan Menulis, Menulis Deskripsi.
TAHAPAN PROSES MENULIS
Lima tahap proses
menulis meliputi: pramenulis, penyusunan konsep, perbaikan, penyuntingan, dan
penerbitan.
Tahap 1 : Pramenulis (Prewriting)
Pramenulis merupakan tahap siap menulis, Murray (1985) menyebut tahap ini
dengan tahap penemuan menulis. Murray (1982) meyakini bahwa 20% atau lebih
waktu tersita pada tahap ini. Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
Memilih topik
Memikirkan tujuan, bentuk dan audiens
Memanfaatkan dan mengorganisir gagasan-gagasan
Pada tahap pramenulis siswa berusaha mengemukakan apa yang akan mereka
tulis. Dalam hal ini guru bisa menggunakan berbagai strategi pramenulis yang di
implementasikan di kelas untuk membantu siswa memilih tema dan menentukan
lncarnya proses menulis. Bila guru menentukan tema untuk siswa dan tem tersebut
tidak sesuai dengan minat serta skema
siswa maka kegiatan menulis siswa akan terhambat. Misalnya saja dalam
pembelajaran menulis cerita, tema cerita yang harus ditulis siswa harus sesuai
dengan minat mereka.
Pada tahap ini siswa mengumpulkan gagasan dan informasi serta mencoba
membuat kerangka atau garis besar yang akan ditulis. Di sini guru dapat
melakukan kolaborasi melaui ramu pendapat, membuat klaster, atau menyusun
daftar ide, sehingga menghasilkan tema dan topik tulisan yang sesuai dengan
minat dan keinginan mereka. Safi’ie (1988) berpendapat bahwa untuk dapat
menemukan perihal pokok karangan yang akan ditulis , maka dapat dilakukan dalam
kegiatan penjajagan ide melalui ramu pendapat. Melalui kegiatan ini juga guru
dapat mengetahui seberapa luas skemata yang dimiliki siswa berkaitan dengan hal
atau topik yang akan dibahas.
Masih dalam taha pramenulis, siswa mulai mencari dan menemntukan arah dan
bentuk tulisannya. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan membaca untuk
menelaah satu bentuk tulisan. Selain melakukan kegiatan membaca, khususnya
dalam memilih topik siswa juga dapat melakukan observasi, membaca buku dan
sastra, serta menggunakan chart dan gambar.
Tahap 2 : Penyusunan Draf Tulisan
(Drafting)
Tahap kedua dalam proses menulis adalah menulis draf. Dalam proses menulis,
siswa menulis dan menyaring tulisan mereka melalui sejumlah konsep. Selama
tahap penyusunan konsep, siswa terfokus dalam pengumpulan gagasan. Perlu
disampaikan kepada siswa bahwa dalam tahap ini mereka tidak perlu merasa takut
malakukan kesalahan. Kesempatan dalam menuangkan ide-ide dilakukan dengan
sedikit memperhatikan ejaan, tanda baca, dan kesalahan mekanikal yang lain.
Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
Menulis draf kasar
Menulis konsep utama
Menekankan pada pengembangan isi
Penyusunan konsep merupakan tahap saat siswa mengorganisasikan dan
mengembangkan ide yang telah dikumpulkannya lewat kegiatan ramu pendapat dalam
bentuk draf kasar. Misalnya dalam pembelajaran menulis cerita, selama tahap
penyusunan konsep siswa terfokus pada aktifitas menuangkan ide dan menyusun
konsep cerita yang akan dibuatnya.
Untuk membantu siswa mengembangkan ide dan menyusun konsep tulisannya,
dapat dilaukan pemberian chart struktur cerita sebagai media bagi siswa untuk
menuangkan semua ide ynag dimilikinya. Hal ini diharapkan dapat memudahkan
mereka untuk mengungkapkan idenya berkaitan dengan struktur cerita secara tidak
ragu-ragu, karena pada tahap berikutnya teks yang sudah disusun akan diperbaiki
dan disusun ulang.
Tahap 3 : Perbaikan (Revising)
Selama tahap perbaikan, penulis menyaring ide-ide dalam tulisan mereka.
Siswa biasanya mengakhiri proses menulis begitu mereka mengakhiri dan
melengkapi draf kasar, mereka percaya bahwa tulisan mereka telah lengkap.
Revisi bukan penyempurnaan tulisan, revisi adalah mempertemukan kebutuhan
pembaca dengan menambah, mengganti, menghilangkan, dan menyusun kembali bahan
tulisan. Kata revisi berarti melihat kembali, pada tahap ini penulis dapat
melihat tulisannya kembali dengan teman sekelas dan guru yang membantu mereka.
Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
Membaca ulang draf kasar
Menyempurnakan draf kasar dalam proses menulis
Memperbaiki bagian yang mendapat balikan dari kelompok menulis
Pada tahap perbaikan ini siswa melihat kembli tulisannya untuk selanjutnya
menambah, mengganti, atau menghilangkan sebagian ide dalam tulisannya. Misalnya
dalam menulis cerita, berkaitan dengan penggarapan struktur cerita yang telah disusunnya siswa dapat
mengubah watak pelau yang semula jahat menjadi baik. Atau siswa dapat juga
menyelipkan peristiwa lain dalam rangkaian cerita yang disusunnya.
Penyuntingan (Editing)
Penyuntingan merupakan penyempurnaan tulisan sampai pada bentuk akhir.
Sampai tahap ini, fokus utama proses menulis adalah pada isi tulisan siswa
dengan fokus berganti pada kesalahan mekanik. Siswa menyempurnakan tulisan
mereka dengan mengoreksi ejaan dan kesalahan mekanikal yang lain. Tujuannya
membuat tulisan menjadi “siap baca secara optimal” (optimally readable).
(Smith:1982).
Cara paling efektif untuk mengajarkan keterampilan mekanikal adalah pada
saat penyuntingan. Ketika penyuntingan tulisan disempurnakan melalui kegiatan
membaca, siswa lebih tertarik pada pemakaian keterampilan mekanikal secara
benar karena mereka dapat berkomunikasi secara efektif. Para peneliti
menyarankan bahwa pendekatan fungsional dalam pengajaran mekanikal tulisan
lebih efektif daripada latihan praktis. Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
Mengambil jarak dari tulisan
Mengoreksi awal dengan menandai kesalahan
Mengoreksi kesalahan
Sebagai contoh, dalam pembelajaran menulis cerita, proses penyuntingan
merupakan tahap penyempurnaan tulisan cerita yang dilakukan sebelum kegiatan
publikasi cerita yang ditulis siswa. Pada tahap ini siswa menyalin kembali draf
yang telah dibuatnya ke dalam polio bergaris
sehingga menjadi sebuah karangan yang utuh. Pada saat yang sama siswa
juga melakukan perbaikan kesalahan yang bersifat mekanis berkaitan dengan ejaan
dan tanda baca.
Pemublikasian (Publishing)
Pada tahap akhir
proses penulisan, siswa mempublikasikan tulisan mereka dan menyempurnakannya
dengan membaca pendapat dan komentar yang diberikan teman atau siswa lain,
orangtua dan komunitas mereka sebagai penulis. Pada tahap publikasi siswa
mempublikasikan hasil penulisannya melalui kegiatan berbagi hasil tulisan
(sharring). Kegiatan berbagi hasil ini dapat dilakukan diantaranya melalui
kegiatan penugasan siswa untuk membacakan hasil karangan di depan kelas
(Tompkins,1994). Sebagai contoh dalam pembelajaran menulis cerita, kegiatan
publikasi dapat dilakukan dengan menugaskan siswa membacakan hasil cerita yang
telah ditulisnya, sementara siswa lain memberikan pendapat berkaitang dengan
cerita tersebut. Kegiatan sharing lainnya dapat dilakukan dengan meminta
orangtua siswa membaca dan memberi komentar terhadap cerita yang telah ditulis
siswa. Dengan demikian, dalam kegiatan publikasi siswa mendapat beragam
penguatan.
Abstrak
Abstrak,
pasti pernah mendengar istilah itu, namun abstrak bukan hanya memiliki arti
sebagai sebuah bentuk yang tidak jelas maupun jenis seni abstrak, namun abstrak
yang akan dibahas di sini adalah abstrak yang berada di dalam penulisan ilmiah.
Abstrak yang mempunyai makna adalah sebuah paragraph yang mencakup atau
ringkasan awal dari sebuah laporan atau tulisan ilmiah. Berikut akan dijelaskan
lebih lanjut tentang definisi Abstrak, jenis-jenis abstrak, dan bagaimana
abstrak seharusnya ditulis.
Abstrak,
menurut American National Standards Institute (1979), definisi abstrak adalah
representasi dari isi dokumen yang singkat dan tepat. Sedangkan menurut
definisi umum, abstrak merupakan bentuk ringkas dari isi suatu dokumen yang
terdiri atas bagian-bagian penting dari suatu tulisan, dan mendeskripsikan isi
dan cakupan dari tulisan. Abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat kepada pembaca tentang
apa yang terdapat dalam suatu tulisan. Pada umumnya abstrak diletakkan pada
bagian awal sebelum bab-bab penguraian.
Dua konsep
utama dalam membuat abstrak:
Conciseness
Significance
Fungsi /
Tujuan abstrak:
Current
awareness: memudahkan para pembaca untuk mendapatkan informasi terbaru tentang
suatu bidang yang diminati, tanpa harus membaca seluruh isi dokumen
Menghemat
waktu pembaca
Melanjutkan
membaca atau tidak ?
Menghindari
terjadi duplikasi tulisan
Keyword :
memudahkan dalam penyimpanan secara elektronis
Dalam
menyusun atau menulis sebuah abstrak, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :
Tujuan
(Purpose)
o
Apa alasan penulis ?
o
Apa ide utama (main idea) dari penulis ?
Cakupan
(Scope)
o
Apa yang menjadi fokus penulis ?
o
Dimana yang menjadi konsentrasi dari penulis ?
Metode
(Method)
o
Jenis-jenis temuan yang ditampilkan penulis ?
o
Bagaimana penulis meyakinkan pembaca tentang validitas dari ide utamanya ?
Hasil
(result)
o
Apa konsekuensi dari permasalahan atau isu yang didiskusikan penulis ?
Rekomendasi
(recommendations)
o
Apa solusi yg ditawarkan penulis ?
o
Apakah penulis merekomendasikan perubahan atau aksi tertentu ?
Kesimpulan
(conclusions)
o
Apakah penulis menggambarkan hubungan “cause & effect” ?
o
Apa kesimpulan yang dibuat oleh penulis dari studi yang dilakukannya
Dalam
penulisan sebuah abstrak tentu gaya setiap orang berbeda-beda antara penulis
yang satu dengan penulis yang lain, namun secara umum abstrak, menurut
sifatnya, terbagi atas abstrak yang bersifat deskriptif yang dalam Bahasa
Inggris disebut Abstract dan abstrak yang bersifat informatif.
Abstrak informatif terbagi menjadi ringkasan (precise) dan ikhtisar (summary).
Dalam tulisan ilmiah yang disusun untuk memperoleh gelar lewat penelitian
seperti skripsi, tesis dan disertasi, umumnya jenis abstrak yang digunakan
adalah yang berwujud ringkasan, sedangkan ikhtisar lebih banyak digunakan pada
tulisan ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku
1.2. Abstrak
Deskriptif
Sebagai
abstrak deskriptif, Abstrak hanya menyajikan uraian yang sangat singkat tentang
isi tulisan tanpa menyatakan apa yang dibahas dalam aspek-aspek yang tercakup
pada tulisan itu sendiri. Dengan kata lain, untuk menjelaskan gagasan utama
yang terdapat pada tulisan, Abstrak cukup disusun dalam kalimat tunggal
sehingga Abstrak tidak memerlukan perincian yang bersifat detil ataupun
contoh-contoh yang bersifat ilustratif. Pandangan penulis tentang karyanya pun
tidak akan tampak dalam Abstrak. Pendek kata, pada Abstrak penulis hanya
menyajikan hal-hal yang bertalian dengan topik atau menyajikan semata-mata
tentang problematika yang terdapat dalam tulisannya.
Berikut di
bawah ini merupakan satu contoh abstrak yang diambil dari artikel yang ditulis
oleh Djoni Dwijono, “Mendayagunakan Komputer Pribadi secara Maksimal
dengan
Ergonomics” dalam Buletin Informatika No. 13 tahun III/1997, hlm. 74
:
Konsep
Ergonomics telah melahirkan inovasi-inovasi yang baru di bidang disain mesin
dan selalu berkembang dari waktu ke waktu agar mampu menghasilkan mesin yang
benar-benar memaksimalkan kemampuan dan daya kerja manusia. Akan tetapi dalam
perkembangannya, ergonomics tidak hanya meliputi disain mesin melainkan juga
meliputi cara kerja, prosedur-prosedur maupun lingkungan yang mendukung usaha
kerja manusia berkat penelitian, pengembangan, dan inovasi yang kreatif.
1.3. Abstrak
Informatif: Ringkasan (Precise)
Ringkasan
merupakan penyajian singkat tentang isi tulisan dengan memperlihatkan urutan
dari isi atau bab-bab yang terdapat dalam tulisan. Dalam bentuknya yang singkat
itu, urutan tentang isi atau bab-bab tulisan disajikan secara proporsional.
Pada prinsipnya di dalam ringkasan, gagasan dan pendekatan penulis telah tampak
dan problematika berikut upaya pemecahan yang ada dalam tulisan disajikan
berurutan sesuai bab-bab yang ada. Adakalanya ilustrasi juga disertakan dalam
ringkasan.
Adapun
ringkasan dapat dicontohkan dari karya terjemahan yang berjudulKomputer:
Tantangan
Baru di Bidang Hukum yang diterbitkan oleh Airlangga Universiti Press pada
tahun 1991 :
Pembaca
tidak harus memiliki pengetahuan yang mendalam baik dalam bidang Ilmu Hukum
maupun Ilmu Informatika karena buku ini hanya menyajikan suatu sudut pandang
sederhana tentang perubahan yang terjadi dalam ketentuan-ketentuan di bidang
hukum dengan meluasnya penggunaan komputer. Bab pertama berisi uraian singkat
mengenai cara kerja komputer dan empat bab berikutnya menguraikan akibat-akibat
yuridis dari pengunaan komputer ditinjau dari Hukum Perdata, Hukum Pidana, dan
Hukum Tata Negara. Dari bab lima hingga bab delapan berisi uraian yang meliputi
cara kerja komputer, bank data, otomatisasi oleh penguasa hingga peran komputer
di bidang pendidikan yang kesemuanya dapat menjadi titik perhatian para ahli
hukum maupun perancang undang-undang. Akhirnya buku ini lebih merupakan sumbang
pemikiran agar ilmu hukum dan praktek hukum mampu menjawab tantangan jaman
karena masyarakat yang senantiasa berubah.
1.4. Abstrak
Informatif: Ikhtisar (Summary)
Abstrak yang
berbentuk ikhtisar sebenarnya sering digunakan para penulis dalam membuat
kutipan secara tidak langsung ataupun di dalam menyimpulkan suatu uraian.
Sebagai salah satu bentuk abstrak, ikhtisar juga merupakan penyajian singkat
tentang isi tulisan namun tidak mempertahankan urutan bab-bab yang ada seperti
halnya pada ringkasan. Dengan demikian, problematika dan upaya pemecahan yang
tersaji dalam tulisan dijelaskan secara ringkas dan bebas tanpa memberikan
penjelasan mengenai isi dari seluruh tulisan secara proporsional. Ilustrasi pun
kadang juga diperlukan dalam sebuah ikhtisar.
Dari uraian
mengenai Abstrak, Ringkasan, dan Ikhtisar, maka dapat diketahui bahwa uraian
yang disajikan baik dalam bentuk ringkasan maupun ikhtisar sifatnya tidak
sesingkat abstrak. Selain gagasan utama yang dikandung dalam tulisan, pada
ringkasan maupun ikhtisar disertakan ilustrasi untuk menjelaskan aspek-aspek
yang dibahas dalam tulisan. Pada ringkasan sekalipun penyajiannya menurut
bab-bab yang ada, namun ada kalanya mengabaikan bab yang kurang penting seperti
halnya pada penyusunan ikhtisar.
1.5. Panjang
Abstrak
Tidak
terdapat patokan yang absolut mengenai besar kecilnya ringkasan maupun
ikhitisar namun bagi penulis pemula dapat mempergunakan patokan seperti
misalnya apabila jumlah halaman tulisan adalah 250 halaman, maka proporsi untuk
ringkasan atau ihtisar dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus di bawah ini
:
Jumlah
halaman X baris setiap halaman X kata dalam dalam satu baris.
250 X
25 X 9 ) = 56.250 kata
maka jumlah
halaman ringkasan atau ikhtisar yang dibutuhkan adalah :
56.250 :
(25X9) = 250 kata = ± 1,1 halaman berukuran kuarto dalam 1 spasi atau ±2,5
halaman dalam 2 spasi pada kertas berukuran kuarto
Patokan
untuk menentukan jumlah baris dalam satu halaman maupun jumlah kata dalam satu
baris seperti digunakan pada contoh di atas adalah berasal dari standar
masyarakat ilmiah bahwa huruf yang dipakai untuk karya ilmiah adalah berukuran
PICA pada mesin ketik atau sama dengan jenis huruf Times New Roman 12 pada
program pengolah kata MS Word dan sejenisnya.
Rumus untuk
menentukan ukuran ringkasan atau ikhtisar seperti di atas hanyalah gambaran
umum yang tidak perlu ditetapkan secara ketat karena yang penting adalah ukuran
dan keseimbangan proporsional dengan besar tebal tipisnya sebuah tulisan.
No comments:
Post a Comment